Minggu, 21 Juni 2009

Cerdik Mengelola Keuangan

Teori Parkinson mengatakan : “ Pengeluaran meningkat sesuai dengan penghasilan.” Artinya sejalan dengan meningkatnya penghasilan, maka pengeluaran kita pun akan meningkat. Ini akan berlangsung, terlepas dari berapa besarnya pun penghasilan kita. Dengan berjalannya waktu, kita akan membangun kebiasaan untuk membelanjakan berapapun penghasilan kita.

Ketika menerima gaji pertama di IBM, saya sempat merasa penghasilan saya sangat besar, rasanya tidak mungkin menghabiskan uang penghasilan itu. Tetapi ternyata tidak lebih dari enam bulan, gaya hidup pun berubah, menyesuaikan dengan penghasilan tersebut. Ketika ada kenaikan penghasilan pun, pengeluaran segera menyesuaikan. Alhasil, bertahun-tahun bekerja, jumlah aset yang dimiliki tidak seimbang dengan jumlah penghasilan.

Beruntung sekitar 12 tahun yang lalu saya membaca buku “Investing for Dummies” yang mebahas berbagai jenis dan cara investasi. Setelah membaca buku itu saya jadi terterik untuk mempraktekkannya. Untuk itu saya harus menyisihkan uang untuk investasi. Kebiasaan ini sampai sekarang saya lakukan

Banyak orang merasa kesulitan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk investasi, karena itu artinya, mereka harus menurunkan standard hidupnya. Pendekatan yang bisa dicoba adalah berjanji untuk menyisihkan 50 % dari setiap kenaikan pendapatan yang akan kita dapatkan sejak hari ini. Jadi kalau bulan depan pendapatan kita naik 15 %, maka 7,5 % diantaranya langsung disisihkan. Buatlah rekening bank terpisah, sehingga uang yang akan investasikan ini tidak tercampur dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ini lebih mudah dilakukan karena kita tidak perlu menurunkan standard hidup kita. Dengan cara ini, ketika kita melakukannya dengan disiplin maka lama-kelamaan kita akan bisa menyisihkan 15 % lalu 20 % lalu 30 % dari pendapatan kita.

Gembira Dengan Tumbuhnya Aset

Kebanyakan orang mengasosiasikan membelanjakan uang dengan kebahagiaan dan mengasosiasikan menabung dengan penderitaan. Kita harus merubah pola pikir ini. Tugas kita untuk mulai mengasosiasikan menyisihkan uang untuk investasi dan melihat uang kita tumbuh sebagai kebahagiaan. Semakin kita merasa bahagia melihat simpanan kita tumbuh, kita akan semakin termotivasi untuk mengurangi pengeluaran dan menambah simpanan.

Kebanyakan orang yang sukses secara finansial, terbiasa untuk merasa gembira dan puas menyisihkan uang, berinvestasi dan menumbuhkan uangnya. Sebaliknya kegagalan financial datangnya dari kebiasaan untuk merasakan sebagian besar kebahagiaan dari kegiatan membelanjakan uang.

Lima Pilihan Dasar Investasi

Ketika kita membaca koran atau majalah investasi, kita bisa melihat ada banyak sekali pilihan investasi. Meskipun demikian, pada dasarnya pilihan investasi ini bisa dikelompokkan dalam lima alokasi aset: Tunai, Properti, Obligasi, Saham dan Alternatif. Penelitian menyimpulkan keputusan alokasi aset ini lebih mempengaruhi kinerja portfolio ketimbang pilihan saham mana yang dibeli dan waktu pembeliannya. Karenanya, kita perlu memberikan perhatian besar pada alokasi aset.

Dana Tunai Memberikan Rasa Aman

Investasi dalam bentuk tunai memberikan perasaan aman bahwa pokoknya tidak pernah berkurang dan dapat di ambil sewaktu-waktu. Menyimpan uang di dalam lemari, di Rekening Tabungan dan Deposito di Bank adalah contoh-contoh alokasi aset dalam bentuk tunai.

Meskipun tampaknya alokasi aset dalam bentuk tunai paling aman, akan tetapi daya belinya berkurang dengan berjalannya waktu. Dengan tingkat inflasi sekitar 7 % di Indonesia saat ini, tabungan dan deposito yang saat ini tingkat bunganya berada di kisaran 7 % lalu dipotong pajak, jelas nilainya berkurangdengan berjalannya waktu.

Umumnya alokasi aset dalam bentuk tunai dipilih ketika banyak hal sedang serba tidak pasti, dan dibutuhkan jaring pengaman dalam menghadapi ketidak pastian itu.

Properti, pondasi yang kuat.

Rumah tempat kita tinggal barangkali adalah proyek keuangan kita yang terbesar dengan asumsi kita tidak menyewanya dari orang lain. Properti yang tidak kita tinggali juga bisa menjadi pilihan investasi. Biasanya properti nilainya tidak turun bahkan apresiasi harganya lebih tinggi dari tingkat inflasi. Disamping itu properti juga mendatangkan hasil sewa. Investasi di properti bisa dalam bentuk rumah, blok perkantoran, pertokoan, pabrik dll. Lokasi dan rekam jejak pengembang sangat menentukan keberhasilan investasi properti. Kelebihan lain dari properti adalah bisa dijaminkan, sehingga sebetulnya kita tidak membutuhkan uang yang sangat besar untuk investasi di sini karena bisa menggunakan uang pihak lain (Bank).

Obligasi, memberikan pendapatan tetap lebih besar dari deposito

Obligasi yang diperjual belikan di pasar saham adalah surat hutang yang dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan. Pihak yang mengeluarkan surat obligasi akan membayar bunga pada tanggal-tanggal tertentu dan mengembalikan pokoknya sesuai yang tertera pada sertifikat obligasi pada hari yang sudah ditentukan.

Secara sederhana, obligasi dapat digambarkan sebagai berikut: Sebuah perusahaan membutuhkan uang dan Anda meminjamkannya sebesar misalnya Rp. 100 juta. Perusahaan itu menjanjikan untuk membayar bunga (kupon adalah istilah yang dipakai) sebesar 10 % setahun, yang dibayar setiap tiga bulan. Jadi Anda menerima Rp. 2.5 juta empat kali dalam setahun. Perusahaan itu juga berjanji akan mengembalikan uang yang Anda pinjamkan senilai Rp.100 juta pada tanggal yang sudah ditentukan, misalnya tanggal 1 Mei 2014.

Obligasi adalah pilihan yang baik apabila kita menginginkan pendapatan yang teratur. Obligasi belakangan ini menjadi sangat populer mengingat investasi ini lebih stabil dibandingkan dengan saham dan memberikan hasil yang lebih baik dibanding deposito. Investor perorangan bisa membeli obligasi retail secara langsung dengan menghubungi Bank atau pialang. Obligasi retail yang dikeluarkan pemerintah dan sangat populer adalah ORI. Investor perorangan bisa juga membeli obligasi melalui reksadana. Nilai reksadana obligasi ini bisa naik turun tergantung pada iklim investasi dan kemahiran manager investasi yang mengelolanya.

Saham, resiko tinggi tapi potensinya pun sangat menggiurkan.

Saham pada intinya adalah kepemilikan bagian dari suatu perusahaan. Kita bisa memliki satu lot saham dari seribu lot saham yang tersedia. Dalam hal ini maka kita memeliki seperseribu bagian dari perusahaan itu. Umumnya saham dibeli karena investor mengharapkan dalam jangka panjang saham ini akan menghasilkan keuntungan lebih besar dari tunai, properti maupun obligasi. Memang secara umum biasanya saham memberikan keuntungan terbesar, tapi hati-hati, saham juga bisa menjadi cara termudah untuk menghilangkan uang Kita.

Reksadana Saham adalah cara alternatif untuk berinvestasi di pasar saham. Cara ini sangat praktis terutama bagi para investor kecil dan bagi mereka yang tidak punya banyak waktu dan ketrampilan untuk menganalisa saham. Reksadana dirancang sebagai alat untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang memiliki modal dan keingingan untuk berinvestasi, tapi memiliki keterbatasan waktu dan pengetahuan. Dana yang telah terkumpul di kelola investasinya oleh Investment Manager. Reksadana saham adalah reksadana yang menginvestasikan paling tidak 80% dari dana yang terkumpul di saham.

Investasi Alternatif, macam-macam pilihan investasi.

Bagi sekelompok orang, investasi alternatif adalah barang yang bisa dikoleksi seperti karya seni, mobil antik, wine dll. Kelompok yang lain dari Alternatif adalah investasi yang merujuk pada pergerakan harga saham, komoditi dan mata uang. Beberapa dari deal ini disebut juga derivatif.
Investasi jenis ini hanya untuk investor yang sangat berpengalaman yang tahan untuk mengalami kerugian besar.

Pembahasan lebih detail untuk masing-masing jenis investasi bisa dilihat di :
Investasi Properti Semakin Memikat http://www.qbheadlines.com/investment.php?cat=9&id=53
Lebih Dalam Tentang Saham
http://www.qbheadlines.com/investment.php?cat=9&id=47
Obligasi, Memberikan Pendapatan Tetap Lebih Besar dari Deposito
http://www.qbheadlines.com/investment.php?cat=9&id=58

Setiap orang mempunyai profil risiko investasi yang berbeda, karenanya, portfolio investasi yang tepat pun berbeda-beda bagi setiap orang. Ada 2 prinsip investasi yang tidak boleh dilupakan :
Tidak akan ada hasil tanpa tindakan.
Kita harus mengambil resiko untuk mendapatkan keuntungan

Jangan lupa, kita tidak perlu kaya untuk mulai investasi, tapi kita tidak bisa kaya tanpa investasi. Jadi kita perlu mulai mengatur pengeluaran dengan lebih baik, agar kita bisa menyisihkan uang untuk investasi.

Salam hangat penuh semangat

3 komentar:

Zil mengatakan...

Bagus sekali ulasannya bu, ada satu lagi investasi yg penting yaitu diri kita sendiri, caranya tentu dengan meningkatkan kemampuan dan nilai diri kita melalui proses pembelajaran, pemerkayaan pengalaman dan membangun relasi. Mungkin dari pengalaman Ibu bisa dibahas khusus investasi terhadap diri sendiri ini. Baik bu, salam sukses selalu.

Anonim mengatakan...

Mba, kalau saat ini investasi punya mba di bidang apa yg tertinggi pertumbuhannya, selain itu apakah ikutan asuransi investasisyariah model Prudential itu bagus ? saya barusan ikut untuk periode selama 10 thn , setelah baca polisnya jadi ragu ragu.

furniture minimalis mengatakan...

pengelolaan dana investasi keuangan merupakan pekerjaan yang cukup sulit. perlu kejelian dan menganalisa dan memperoleh informasi yang paling dulu dibanding yg lain.