Selasa, 07 Oktober 2008

Kepemimpinan dalam Mengatasi Krisis

Oleh: Betti Alisjahbana

Minggu lalu kita menyaksikan drama tarik ulur persetujuan RUU Bailout senilai US700 miliar di kalangan politisi Amerika. Kejatuhan yang menimpa lembaga keuangan di AS- sebagai dampak dari krisis kredit subprime mortgage- telah meruntuhkan kejayaan Wall Street sebagai pusat keuangan global. Lehman Brothers Holdings Inc. bangkrut, Merrill Lynch & Co dijual ke Bank of America Corp. Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley menilai tidak ada masa depan pada bisnis bank investasi dan model bisnis yang dinilai rusak ini perlu digantikan.

Krisis keuangan di Amerika ini juga menyuguhkan pertunjukan saling tuding. Calon Presiden dari partai Demokrat Barrack Obama menuduh bahwa krisis ini adalah akibat dari Filosofi tim administrasi Bush yang gagal. Saling tuding pun terjadi diantara kedua partai di DPR segera setelah voting pertama yang gagal meloloskan bailout.

Di Indonesia kita menyaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat paripurna yang dihadiri oleh Wakil Presiden, sejumlah menteri, Gubernur BI, kalangan bisnis, akademisi dan media. Selama satu setengah jam, Yudhoyono menampilkan data ekonomi dan politik yang menunjukkan adanya perbedaan besar antara keadaan saat ini dan menjelang krisis moneter 10 tahun yang lalu dan mengajak untuk bersikap optimistis dalam menghadapi badai ekonomi. Beliau mengakhiri paparannya dengan 10 arahan bagi pejabat pemerintah, pedoman konsultatif bagi gubernur BI dan himbauan kepada para pengusaha dan tokoh media.

Menjaga Keseimbangan dalam Krisis

Krisis kerap terjadi dalam organisasi. Dan selama organisasi berisi manusia, akan ada kesalahan, kontroversi, kecelakaan, pencurian dan penipuan. Orang memang tidak selalu mengikuti aturan. Itu sebabnya ada polisi, pengadilan dan penjara. Bagi para pemimpin, krisis seringkali adalah hal yang paling menyakitkan dan tes terberat dalam karirnya. Krisis bisa menimbulkan kecemasan, mengakibatkan tidak bisa tidur dan membuat perut mulas. Meskipun begitu, krisis menuntut pemimpin untuk tegar, tenang dan bisa menjaga keseimbangan antara mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengatasi krisis di satu sisi, melokalisasinya sehingga tidak menjalar, dan menjalankan kegiatan secara normal di bagian lain seakan-akan tidak ada krisis. Hal ini yang sering terlupakan dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Karena bila Anda hanya fokus pada pemecahan krisis saja, tanpa melokalisasinya dan tanpa meyakinkan bahwa di bagian lain organisasi tetap berjalan baik, maka seluruh organisasi dapat terlibas oleh krisis.

Krisis sangat bervariasi bentuknya. Ada yang sifatnya internal, ada pula yang melibatkan pemberitaan di media dan mengandung konsekuensi hukum. Ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada pula yang makan waktu berbulan-bulan. Berikut ini adalah beberapa contoh krisis yang bisa terjadi dalam organisasi :

  • Tuntutan atas kualitas barang yang buruk atau cara berbisnis yang tidak etis

  • Musibah yang melibatkan pegawai atau pelanggan

  • Pemberitaan negatif di media tentang organisasi Anda

  • Kebakaran, banjir, badai atau kerusakan yang berdampak negatif pada binis dan/atau properti.

Setiap krisis berbeda sehingga sulit membuat resep penanganannya. Namun demikian ada beberapa petunjuk yang bisa digunakan :

1, Ambil asumsi terburuk. Kita akan buang waktu terlalu banyak bila mencoba mengelak atau membantah dengan mengatakan tidak ada masalah. Lewati saja tahapan membantah ini dan langsung siapkan mental kita bahwa masalah ini akan membesar dan memburuk dan bahwa kita harus menanganinya segera.

Pada awal-awal saya memimpin, saya pernah mengalami suatu krisis dimana ketika saya mendengar ada kejanggalan, reaksi pertama saya adalah menepisnya dan menganggap hal seperti itu tidak mungkin terjadi di organisasi yang saya pimpin. Pada akhirnya masalah menjadi besar dan penanganannya lebih sulit. Berbekal pengalaman itu, bila ada laporan suatu kejanggalan saya ambil asumsi bahwa ada yang salah, lalu kami lakukan apa yang diperlukan untuk mengatasinya agar segera bisa diatasi.

2. Asumsikan bahwa semua informasi akan bocor dan semua orang akan tahu. Komunikasikan apa yang kita ketahui segera setelah kita mengetahuinya. Kita akan mengundang spekulasi bila kita tidak melakukannya dan orang lain yang tidak mengetahui duduk persoalannya bisa jadi akan membuat cerita sendiri yang lebih buruk dari yang sebenarnya.

Putuskan apa yang akan disampaikan dan siapa yang akan menyampaikan. Fakta yang sama bisa berarti berbeda bila disampaikan dalam konteks yang berbeda. Sampaikan fakta-fakta dalam konteks yang tepat dengan memperhatikan kepentingan pihak-pihak yang dirugikan dalam krisis ini.

Semakin terbuka kita bicara mengenai masalah, penyebab dan solusinya, semakin besar kepercayaan yang akan kita dapatkan dari mereka yang mendengarnya baik di dalam maupun di luar organisasi.

3. Ambil tindakan yang pantas. Kemungkinan besar akan ada faktor-faktor yang di luar kontrol kita yang akan memengaruhi kemampuan kita untuk mengatasi krisis. Jangan menjanjikan suatu solusi yang ada kemungkinan kita tidak bisa memenuhinya. Pada saat yang sama, yakinkan bahwa respon kita memadai sehingga kita dipandang sungguh-sungguh dalam mengatasi masalah ini.

4. Organisasi kita akan selamat dan pada akhirnya menjadi lebih kuat setelah krisis. Kita akan mendapatkan pelajaran berharga dari setiap krisis yang kita alami, meskipun seperti juga saya, Anda akan membenci setiap krisis.

Pelajaran umum yang saya dapat adalah kebijakan dan aturan akan usang bila tidak dihidupkan dan ditegakkan oleh semua manager setiap saat.

Ada 3 langkah untuk mencegah terjadinya krisis :

  • Kontrol yang ketat.
    Buat disiplin yang baik dalam sistem keuangan dan akunting dengan proses audit internal dan eksternal yang ketat. Para manajer lapangan harus mereview dan menindak lanjuti setiap temuan audit.

  • Proses internal yang baik.
    Untuk menghindari krisis perlu diterapkan proses rekruitmen yang ketat, evaluasi kinerja yang akurat dan program pelatihan komprehensif. Buatlah kebijakan perusahaan yang singkat dan jelas. Lakukan pelatihan sehingga semua pegawai mengerti.

  • Tindakan yang tegas dan tidak pandang bulu pada para pelanggar.
    Pelanggaran harus diberi hukuman yang setara dengan jenis pelanggarannya, termasuk pemecatan untuk pelanggaran berat.

Krisis akan selalu ada dan ketika terjadi rasanya sangat menyakitkan. Sesulit apa pun krisis itu, coba untuk tenang dan tegar. Ingatlah bahwa pada waktunya badai ini pun akan berlalu. Dan badai ini akan berlalu karena kita mengatasinya dengan baik. Kita akan menghadapi masalah besar itu, mengambil tanggung jawab atas masalah itu di tangan kita dan mencari solusinya. Pada saat yang sama kita tetap menjalankan operasi organisasi kita sehari-hari. Kita tidak akan pernah merasa senang dengan apa yang menimpa kita, tetapi suatu saat kita akan melihat bahwa kita dan organisasi yang kita pimpin menjadi lebih baik karena krisis itu.

Selamat menghadapi krisis dengan tegar.

Salam hangat penuh semangat.

6 komentar:

dwides M-bloX mengatakan...

Tingkah investor yg menyebabkan hancurnya pasar saham tdk dapat saya pahami, bgmn pendapat ibu?

Aryanto mengatakan...

Bagaimana saran anda untuk menyikapi gonjang-ganjing BEI yang terkena imbas krisis finansial AS.

Betti Alisjahbana mengatakan...

Rekan Dwides,
Ada beberapa tipe orang/institusi yang main di pasar saham :
- Investor yang menanamkan uangnya di pasar saham sebagai investasi jangka panjang. Ini adalah tipe investor yang dibutuhkan.
- Spekulan yang ingin mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham dalam jangka pendek.
- Oknum yang secara sengaja mengail di air keruh. Mereka ini yang melakukan short selling atau menggoreng saham.
Hancurnya pasar saham adalah akibat dari investor asing yang menarik dananya dari BEI, karena dana itu dibutuhkan di US sebagai akibat dari krisis ekonomi di sana. Penarikan dalam jumlah besar ini mengakinatkan penurunan harga saham secara signifikan dan telah membuat banyak orang panik. Situasi ini di perburuk dengan adanya oknum-oknum yang bersudaha mengambil keuntungan dari situasi sulit ini.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana
http://QBheadlines.com

Betti Alisjahbana mengatakan...

Rekan Aryanto,
Menurut saya sebaiknya kita tidak panik dan jangan ikut-ikutan menarik uang kita dari BEI. Investasi saham memang resikonya tinggi dan merupakan investasi jangka panjang. Seharusnya investor saham menyadari ini.

Pengalaman saya sebelumnya, bila kita tidak buru-buru menjual saham ketika harga saham anjlok, dalam jangka panjang kita tetap akan untung.

Situasi ini juga mengingatkan kita sekali lagi pentingnya pengelolaan portofolio yang komposisinya sesuai dengan kadar resiko yang siap kita tanggung. Komposisi saham, properti, obligasi dan cash harus sesuai dengan resiko yang mampu kita tahan.

Entrepreneurship sangat dibutuhkan Indonesia saat ini. Saya menulis artikel khusus mengenai hal ini yang bisa di baca di http://QBheadlines.com/

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana
Salam hang

dwides M-bloX mengatakan...

Mestinya para investor itu memperhatikan pendapat ibu, salam hangat juga..

Fatima Saheed mengatakan...

Saya Fatimawati, saya menggunakan waktu ini untuk memperingatkan semua rekan saya INDONESIANS.Who yang telah terjadi di sekitar mencari pinjaman, Anda hanya harus berhati-hati. satu-satunya tempat dan perusahaan yang dapat menawarkan pinjaman Anda adalah QUALITYLOANFIRM. Saya mendapat pinjaman saya dari mereka. Mereka adalah satu-satunya pemberi pinjaman yang sah di internet. Lainnya semua pembohong, saya menghabiskan hampir 32 juta di tangan pemberi pinjaman palsu. Tapi qualityloan memberi saya mimpi saya kembali. Ini adalah alamat email yang sebenarnya mereka: qualityloanfirm@asia.com. Email pribadi saya sendiri: fatimatu.said99@gmail.com. Anda dapat berbicara dengan saya kapan saja Anda inginkan. Terima kasih semua untuk mendengarkan permintaan untuk saran saya. hati-hati